- Oleh Infonews871
- 27, Jan 2026
KARAWANG,INFONEWS –
Ironi pembangunan properti kembali terjadi di wilayah Karawang. Warga Perumahan Griya Arista Cilamaya kini berada di titik nadir kesabaran. Hampir dua tahun menghuni, mereka merasa "dijebak" oleh janji manis developer yang lebih memprioritaskan penjualan unit baru ketimbang membenahi infrastruktur dasar yang kini kondisinya kian memprihatinkan.
Kekecewaan warga memuncak saat melihat aktivitas pembangunan unit rumah terus dikebut, sementara akses jalan lingkungan dibiarkan hancur. Paguyuban Perumahan Griya Arista Cilamaya menilai pihak pengembang telah mengabaikan aspek K3 (Keamanan, Kesehatan, dan Keselamatan) lingkungan.
"Harusnya jalan itu yang diutamakan. Rumah terus dibangun, tapi jalan sama sekali tidak diperhatikan. Setiap kali ditanya, jawabannya cuma basa-basi tanpa realisasi," tegas salah satu pengurus paguyuban kepada media. Rabu 280126.
Kondisi jalan yang penuh lubang dan tidak rata menjadi ancaman nyata, terutama saat musim hujan. Kekhawatiran warga pun mulai mencapai level ekstrem. Muncul pertanyaan bernada satir di grup koordinasi warga: "Apakah harus ada korban jiwa dulu baru diperbaiki?"
Salah satu poin yang paling memicu kemarahan adalah pernyataan pihak developer yang mengklaim pembangunan jalan baru akan dilakukan setelah seluruh unit rumah selesai dibangun.
Secara teknis dan etika bisnis properti, alasan ini dinilai cacat logika karena beberapa hal:
Beban Kendaraan Material: Menunggu seluruh unit selesai berarti membiarkan warga melintasi jalan rusak yang terus dihantam kendaraan berat pengangkut material.
Hak Konsumen: Berdasarkan UU No. 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman, pengembang wajib membangun prasarana, sarana, dan utilitas umum (PSU) yang layak.
Depresiasi Nilai Hunian: Jalan yang rusak menurunkan nilai investasi rumah yang telah dibeli warga secara sah.
Paguyuban Griya Arista Cilamaya kini mendesak adanya mediasi terbuka. Warga tidak hanya butuh janji "iya", melainkan aksi nyata di lapangan. Jika terus dibiarkan, bukan tidak mungkin warga akan menempuh jalur hukum atau melakukan aksi yang lebih besar guna menuntut hak mereka sebagai konsumen.
Hingga berita ini diturunkan, pihak pengembang belum memberikan pernyataan resmi terkait solusi konkret ba
gi perbaikan akses jalan di lingkungan tersebut.
Eghi Alam
Belum ada komentar.