Almas Azzahra Finalis Puteri Indonesia 2026 DIY, Usung Pendidikan, Budaya, dan Gerakan Perempuan


[Foto: Almas Azzahra (Puteri Indonesia DIY 2026) dan Dr. Haryadi Baskoro (pakar Keistimewaan Jogja)]

Yogyakarta —Infonews871.com-

IMG-20260220-WA0018.jpgTerpilihnya Almas Azzahra sebagai Finalis Puteri Indonesia 2026 mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dinilai menjadi representasi kualitas perempuan Jogja yang unggul dalam aspek brain, behavior, dan beauty. Sosok muda yang disebut sebagai “mutiara dari bumi Mataram” ini diproyeksikan membawa nilai keistimewaan Jogja ke panggung nasional melalui tiga program utama di bidang pendidikan, kebudayaan, dan pemberdayaan perempuan.

Dari sisi akademik, Almas memiliki rekam jejak pendidikan yang kuat. Ia merupakan lulusan Arsitektur dari Institut Teknologi Bandung serta pernah menempuh studi di Vienna University of Technology. Selain fasih berbahasa Inggris, Jerman, dan Turki, ia juga pernah meraih juara kompetisi nasional Kampus Merdeka serta mengikuti program pertukaran pelajar di Jerman.

Sebagai Finalis Puteri Indonesia DIY 2026, Almas berencana berkontribusi dalam edukasi Keistimewaan DIY, bekerja sama dengan akademisi dan peneliti, termasuk Dr. Haryadi Baskoro, penulis buku ajar Kuliah Keistimewaan Yogya. Buku tersebut telah digunakan di sejumlah kampus, di antaranya Universitas Gadjah Mada, Universitas Negeri Yogyakarta, dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Edukasi ini diharapkan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap Undang-Undang Keistimewaan DIY Nomor 13 Tahun 2012 melalui sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan komunitas budaya.

Dalam aspek behavior, Almas juga dikenal memiliki pengalaman di bidang kebudayaan. Ia pernah meraih gelar Diajeng DIY pada 2021 serta dinobatkan sebagai Puteri Batik Nusantara 2024.

Untuk penguatan pendidikan karakter berbasis kearifan lokal, Almas direncanakan berkolaborasi dengan Ketua Dewan Pendidikan DIY Prof. Dr. Sutrisna Wibawa, M.Pd., penggagas gerakan Pendidikan Khas ke-Jogja-an (PKJ).

Dalam dialog di Petra FM, Sutrisna menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda sebagai subjek pembelajaran budaya.

Mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta itu bahkan berharap Almas dapat menjadi salah satu tokoh muda penggerak PKJ, terlebih program tersebut mulai menarik perhatian sejumlah daerah lain di Indonesia. Ia juga dikenal sebagai tokoh akademik yang pernah memberikan gelar kehormatan kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Menurutnya, kontes Puteri Indonesia memang memiliki kuat nuansa budaya. Hal itu tidak lepas dari latar belakang pendirinya, Mooryati Soedibyo, yang berasal dari keluarga bangsawan Surakarta. Karena itu, ajang ini dinilai bukan sekadar kompetisi kecantikan, tetapi juga wadah pembentukan citra perempuan Indonesia yang berbudaya dan berintegritas.

Pada aspek beauty, Almas diproyeksikan aktif dalam gerakan perempuan. Tokoh pariwisata DIY, Tazbir Abdullah, menilai kontes Puteri Indonesia merupakan salah satu barometer perempuan Indonesia berprestasi.

Dalam konteks budaya Jogja, kecantikan dipahami secara holistik, mencakup penampilan dan kualitas batin. Untuk itu, Almas direncanakan bekerja sama dengan akademisi dari Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM, Basilica Dyah Putranti, guna memperkuat gerakan perempuan di tingkat lokal maupun nasional.

Ia bahkan diproyeksikan menjadi salah satu tokoh perempuan muda dalam Kongres Perempuan Nasional 2028 di Yogyakarta, yang sekaligus memperingati satu abad Kongres Perempuan pertama tahun 1928.

Dengan kombinasi pendidikan kuat, pengalaman budaya, serta komitmen sosial, Almas Azzahra diharapkan mampu membawa nama DIY semakin dikenal di tingkat nasional. Kiprah yang diusungnya dinilai tidak berhenti pada ajang Puteri Indonesia semata, tetapi berpotensi memberi dampak berkelanjutan bagi pendidikan, kebudayaan, dan pemberdayaan perempuan Indonesia.

(Herman)

  • -

0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka