Bukan sekedar Ngopi, Pahlawan Nasional dihidupkan lewat lukisan kopi di Jogja Coffee Week 2026


[Rahadi dan keluarga berkunjung ke stand coffe painting Rudi W]

YOGYAKARTA-

1001040310.jpg
Rudi sedang menjelaskan kepada pengunjung tentang Coffe painting

Infonews871.com-

Apa ja

1001040311.jpg
Dio Pamola Chandra berkunjung ke stand coffe painting Rudi Winarso didampingi Pulung WP

dinya jika kopi tidak hanya diminum, tetapi digunakan untuk melukis wajah para pahlawan dan tokoh bangsa?

Pertanyaan itu terjawab di tengah kemeriahan Jogja Coffee Week (JCW) #6 di Hall B-C Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta.

 Di antara ratusan stan kopi, aroma roasting dan hiruk-pikuk pencinta kopi, perupa Rudi Winarso justru mengajak pengunjung menikmati kopi dengan cara yang berbeda: melalui karya seni.

Dengan kuas dan seduhan kopi sebagai medium, Rudi menghadirkan wajah-wajah tokoh yang memiliki jejak kuat dalam sejarah Indonesia dan Yogyakarta.

Bukan menggunakan tinta atau cat konvensional

Warna cokelat dari kopi & ampas atau sampah kopi  menjadi lukisan yang indah & memiliki seni yang tinggi  menghidupkan sosok Sultan Hamengku Buwono I hingga Sultan Hamengku Buwono X, KGPAA Paku Alam VIII, Pangeran Diponegoro, Mr. Kasman Singodimedjo, Bung Karno, KH Ahmad Dahlan, KH Hasyim Asy’ari hingga KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Aksi tersebut menjadi bagian dari kolaborasi IKPNI Yogyakarta ( Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia) bersama Rudi Winarso melalui Booth A32 dengan tema “Pahlawan Nasional DI Yogyakarta”.

Ketika Kopi Menjadi Warna Sejarah

Bagi Rudi, coffee painting bukan sekadar teknik melukis yang unik.

Kopi yang selama ini identik dengan minuman, perdagangan, pertemuan dan budaya masyarakat, diolah menjadi medium untuk menyampaikan pesan sejarah.

Rudi yang merupakan alumnus Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta selama ini mengembangkan eksplorasi seni menggunakan kopi dan rempah-rempah Nusantara.

Melalui tangannya, karakter warna kopi justru memberikan kesan tersendiri pada wajah para tokoh. Setiap sapuan kuas membentuk garis, bayangan dan karakter, hingga sosok yang digambarkan perlahan muncul dari permukaan kanvas.

Di sinilah kekuatan coffee painting Rudi kopi tidak berhenti sebagai komoditas, tetapi berubah menjadi bahasa visual.

Karya-karyanya bahkan telah menjadi koleksi berbagai kalangan di dalam maupun luar negeri.

Sejarah Tidak Harus Selalu Berjarak

Kolaborasi dengan IKPNI (Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia) Yogyakarta memberikan dimensi lain pada coffee painting Rudi.

Jika sejarah sering kali dipersepsikan sebagai sesuatu yang serius dan berada di balik buku-buku pelajaran, Rudi membawanya ke ruang publik dengan bahasa yang lebih populer dan kreatif.

Pengunjung JCW dapat melihat langsung proses kelahiran karya tersebut. Mereka tidak hanya melihat hasil akhir sebuah lukisan, tetapi juga menyaksikan bagaimana seduhan kopi diproses menjadi warna dan kemudian berubah menjadi figur tokoh sejarah.

Konsep ini sekaligus menjadi cara untuk mendekatkan generasi muda dengan sejarah.

Terlebih, JCW#6 mengusung tema “Inclusive Vibes”, yang mempertemukan petani, roaster, barista, pelaku usaha, komunitas, pencinta kopi hingga masyarakat umum.

Tahun ini, JCW menghadirkan sekitar 195–197 stan dan lebih dari 600 brand kopi dari hulu hingga hilir. Partisipasi internasional juga mewarnai pameran, termasuk 13 stan asal Jepang serta peserta dari Malaysia dan Australia.

Di tengah skala festival yang besar tersebut, coffee painting Rudi menjadi salah satu bentuk bahwa kopi dapat bersinggungan dengan seni, budaya dan sejarah.

Dari JCW dan  dlm rangka HUT Keistimewaan DIY yg ke 14...

Eksplorasi Rudi tidak berhenti di Jogja Coffee Week ( JCW ) saja dan masih

Dalam rangka HUT Keistimewaan DIY ke-14, Rudi Winarso juga membuka agenda pameran dan class coffee painting di Ruang Tamu Jogja Istimewa, Jalan Tunjung Baru B8, Baciro, Yogyakarta.

Pameran ini sekaligus menjadi kelas dan belajar serta praktek bagi anak anak muda  dan  masyarakat umum untuk mengenal lebih jauh teknik melukis menggunakan kopi dan ampas kopi..ujar Pulung WP selaku PR Ruang Tamu Jogja Istimewa Baciro Yogyakarta 

Momentum ini sekaligus memperkuat pesan bahwa seni dapat menjadi salah satu cara untuk merawat identitas dan sejarah Yogyakarta.

Sementara itu, antusiasme masyarakat terhadap JCW 2026 juga terlihat sejak hari pertama penyelenggaraan.

Rahadi menyebut tingginya jumlah pengunjung menjadi sinyal positif bagi penyelenggaraan festival tersebut.

“Karena di hari pertama sudah sangat ramai. Jadi hari kedua, ketiga juga pastinya akan lebih ramai lagi,” ujarnya.

Selain pameran, JCW #6 menghadirkan berbagai agenda, mulai dari Brewers Competition, Jawara Coffee Competition, Fun Roasting, Green Bean Competition dalam rangkaian Piala Raja Sri Sultan Hamengku Buwono X, Coffeeverse Talkshow, pertunjukan wayang kulit, pemutaran film AI tentang kopi Indonesia, peluncuran Sekolah Kopi Nusantara hingga pertunjukan musik.

Namun di antara riuhnya festival kopi itu, Rudi memilih jalan yang berbeda.

Ia tidak mengajak orang sekadar meminum kopi.

Ia mengajak masyarakat melihat sejarah melalui kopi.

Sebuah pesan sederhana, tetapi kuat: bahwa sesuatu yang tumbuh dari tanah Nusantara, ketika berada di tangan seniman, dapat berubah menjadi karya yang menghidupkan kembali ingatan tentang bangsa dan para tokohnya.

(Herman)

  • -

0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka