Ringankan Beban Korban Banjir Pamanukan, Paguyuban SPPG Salurkan Bantuan Rp150 Juta dan Makanan Bergizi


SUBANG,INFONEWS– 

Wilayah Subang Utara kembali berduka. Luapan Sungai Cipunagara beberapa hari lalu telah merendam Desa Mulyasari serta sejumlah titik di Kecamatan Pamanukan dan Legonkulon. Di tengah sisa-sisa lumpur yang masih menyelimuti rumah warga, solidaritas kemanusiaan mulai mengalir, salah satunya dari Paguyuban Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kabupaten Subang.

Kondisi pasca-banjir bukan sekadar masalah air yang surut. Penumpukan lumpur dan rusaknya sanitasi meningkatkan risiko penyakit bagi warga. Menyadari hal tersebut, Ketua Paguyuban SPPG Subang, Aceng Kudus, turun langsung memastikan warga tidak kekurangan asupan nutrisi.

Selain menyalurkan dana bantuan sebesar Rp150 juta, SPPG juga berfokus pada program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

​"Kami hadir untuk membantu korban banjir yang saat ini masih berjibaku membersihkan rumah dari material lumpur. Fokus kami adalah memastikan mereka tetap mendapatkan asupan bergizi di tengah kondisi sulit ini," ujar Aceng Kudus, Jumat (6/2/2026).

Camat Pamanukan, Bambang Edi Purwanto, mengonfirmasi bahwa bantuan dana tersebut telah masuk ke Rekening Bencana Banjir Subang. Langkah ini dinilai krusial untuk menjaga akuntabilitas publik dan memastikan bantuan tidak salah sasaran.

​"Kami sangat mengapresiasi gerak cepat Paguyuban SPPG. Dana Rp150 juta ini akan didistribusikan secara selektif kepada masyarakat yang benar-benar terdampak paling parah," tegas Bambang.

Meskipun bantuan logistik dan finansial sangat membantu, masyarakat perlu bersikap kritis terhadap siklus tahunan ini. Meluapnya Sungai Cipunagara adalah alarm keras bagi pemerintah daerah mengenai:

​Normalisasi Sungai: Sejauh mana efektivitas pengerukan dan perbaikan tanggul di sepanjang aliran Cipunagara?

​Alih Fungsi Lahan: Apakah resapan air di wilayah hulu masih berfungsi optimal?

​Mitigasi Berkelanjutan: Bantuan Rp150 juta bersifat kuratif (mengobati). Masyarakat membutuhkan solusi preventif (pencegahan) agar Pamanukan tidak menjadi "langganan" banjir setiap tahunnya.

Secara edukatif, warga diimbau untuk waspada terhadap penyakit penyerta banjir seperti leptospirosis dan diare. Konsumsi makanan bergizi dan memastikan air minum tetap steril adalah kunci utama bertahan di masa pemulihan.

Darno Dj

  • -

0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka