Pesparawi Memuliakan Tuhan Atau Sekedar Memenangkan Perlombaan


Yogyakarta-Infonews871.com-

Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) dilaksanakan setiap tiga (3 ) tahun, kegiatan ini  dilaksanakan secara bergilir di semua provinsi di Indonesia, ditengah gemerlapnya Pesparawi muncul sebuah pertanyaan mendasar : apakah  kita (Umat Kristen )sedang memuliakan Tuhan, atau sekedar memenangkan penilaian..? demikian pernyataan Dr.Karel Martinus Siahaya, SH.,M.Th. M.H.,M.Sn, Dosen Liturgika STAKTeruna Bhakti Yogyakarta dan Juri Nasional Persparawi XIV. kepada media , Senin , 4 mei 2026.

Pesparawi ke XIV tahun 2016 akan diselenggarakan di Manokwari-Papua,jelang Pelaksanaannya semua kontingen dari berbagai Wilayah melaksanakan latihan dengan durasi yang cukup lama dan.melelahkan, baik olah vokal, teknik terus dipoles dengan tekat untuk tampil terbaik, dengan harmoni akan terdengar indah namun dibalik itu terselib persoalan, ketika pujian dinyanyikan dalam format lomba apakah ia  tetap menjadi Doa, atau berubah menjadi pertunjukan. tutur Martinus Siahaya.

Pertanyaan diatas tidak hanya penting bagi Gereja tetapi juga bagi publik yang hidaup dalam budaya kompetisi. Dalam arus tersebut, Pesparawi beresiko bergeser, dari ruang perjumpaan Iman menjadi panggung evaluasi artistik. padahal sejak awal Pesparawi adalah perayaan Iman. Disanalah musik gereja menemukan kedalamannya sebagai bahasa rohani, dan ketika dimensi ini terabaikan yang tersisa hanya keindahan tanpa makna. Tutur Dosen Liturgika STAK Teruna Bhakti Yogyakarta ini.

Lebih lanjut, Karel Martinus Siahaya mengatakan Pesparawi perlu dikembalikan pada esensinya sebagai mezbah bukan sekedar panggung, yang di cari bukan hanya suara yang selaras tetapi hati yang sejalan. Persoalan utamanya bujan teknis, melainkan eksistensial.Teknik penting tapi itu hanya sarana.sebab tanpa kedalaman rohani, keindahan musikal menjadi kosong.ujarnya.

Bagi parapeserta Pesparawi latihan bukan sekedar membentuk suara, tetapi membentuk hidup, harmoni bukan hanya keselarasan nada melainkan latihan kerendahan hati.

Pemazmur berkata : "Aku hendak memuji Tuhan pada segala waktu" 

(Mazmur 34:2a).

Dalam kerangka tersebut para Juri menjadi penentu arah , apa yang dinilai akan membentuk tujuan, jika yang diutamakan hanya presisi teknis, maka peserta hanya akan mengejar performa, namun jika Juri memberi ruang bagi penghayatan, ketulusan dan kedalaman Pesparawi dapat melanpaui logika lomba.tutur Karel Siahaya.

Dimensi ini memang tidak diukur, ia tidak hadir dalam rangka, melainkan kepekaan, membedakan mana nyanyian yang sekedar terdengar, dan mana yang sungguh-sungguh berbicara. 

Menurut Dr.Karel Martinus Siahaya,S.H.,M.Th.,M.H., M.Sn, kompetisi tidak perlu dihapus tetapi harus ditempatkan secara tepat, sebagai sarana bukan tujuan. Ia mendorong kualitas, tetapi tidak untuk menggantikan makna.ujrnya.

Saat Pesparawi Nasional dilaksanakan di  Manokwari nantinya ribuan suara akan bersatu, namun yang menentukan bukan hanya harmoni yang terdengar, melainkan arah yang dihidupi. Tanpa itu, Pesparawi tetap memukau, tetapi kehilangan doanya. Pungkasnya.

(Herman)

  • -

0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka