- Oleh Infonews871
- 25, Aug 2026
KARAWANG,INFONEWS —
Suasana khidmat dan penuh kekhusukan menyelimuti Kantor UPK BUMDesma LKD Tirta Mulya, Kabupaten Karawang, pada Sabtu, 5 September 2026. Ratusan jemaah dari Majelis Thoriqoh Qodiriyah Naqsyabandiyah (TQN) Pondok Pesantren Suryalaya Sirna Rasa, di bawah naungan Penghulu Pesantren Ketahanan Nasional (PPKN) 111, tampak antusias memadati lokasi sejak pukul 06.30 WIB.
Acara bertajuk "Gebyar Pengajian Anti Gempa dan Zikir Manaqib" ini bukan sekadar rutinitas keagamaan belaka. Di tengah dinamika zaman yang penuh ketidakpastian baik dari segi sosial, ekonomi, maupun potensi bencana alam kegiatan ini merefleksikan pentingnya membangun ketahanan spiritual (spiritual resilience) masyarakat dari akar rumput.
Acara utama yang dimulai tepat pukul 08.30 WIB diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh Al-Ustadz Mudori. Nuansa spiritual semakin menguat ketika alunan sholawat thoriqoh dilantunkan secara berjemaah, dipimpin langsung oleh K.H. Ki Dalang Oman Supandi Sunarya.
Prosesi berlanjut dengan pembacaan Tanbih oleh Hasanudin, pembacaan teks Pancasila oleh Al-Ustadz Sawa sebagai simbol integrasi antara nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan, serta Tawasul oleh Ama Udi. Puncak pembacaan manaqib kemudian disampaikan dengan khusyuk oleh Ustadz Abdul Qodir, yang diikuti dengan seksama oleh para ikhwan, akhwat, pemangku manaqib, pemangku khotaman, serta jajaran pegawai staf koperasi BUMDesma LKD Tirta Mulya.
Dalam sambutannya, Direktur BUMDesma LKD Tirta Mulya, H. Kasmin, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran para jemaah majelis zikir TQN Suryalaya Sirna Rasa serta para staf pegawai. Ia menekankan bahwa kehadiran lembaga ekonomi desa seperti BUMDesma harus senantiasa berjalan selaras dengan pembangunan mental spiritual masyarakatnya.
"Semoga dengan kita terus mengistiqomahkan amaliyah dan hadir di majelis manaqib ini, Gusti Allah SWT memberikan kita semua kekuatan iman, Islam, dan ihsan dalam menjalani kehidupan. Semoga keberkahan, kelancaran segala urusan dunia dan akhirat senantiasa menyertai kita semua," ungkap H. Kasmin di hadapan para jemaah.
Pernyataan ini memberikan sudut pandang edukatif yang tajam: bahwa kemandirian ekonomi desa (melalui BUMDesma) tidak akan kokoh tanpa fondasi moral dan spiritual yang matang. Keduanya merupakan instrumen penting dalam mengentaskan kerentanan sosial di tingkat lokal.
Memasuki sesi inti, K.H. Waslim Mursyid, S.E., selaku penceramah sekaligus Wakil Talqin asal Purwakarta, menyampaikan tausiyah yang sarat akan nilai-nilai introspeksi diri. Beliau menekankan urgensi keistiqomahan dalam menjalankan amaliyah ibadah sehari-hari.
"Penting bagi kita untuk senantiasa istiqomah dalam menjalankan amaliyah ibadah. Terlebih lagi bagi para ikhwan dan akhwat, agar selalu mensyukuri nikmat dan karunia Allah SWT yang telah memberikan kemudahan bagi kita untuk melaksanakan ibadah, baik sholat fardhu wajib maupun sholat sunnah, serta memperbanyak zikir kepada Allah," tegas K.H. Waslim Mursyid.
Lebih lanjut, istilah "Pengajian Anti Gempa" yang disematkan dalam giat ini mengandung makna filosofis yang mendalam. Di tengah berbagai guncangan baik gempa secara tektonik maupun "gempa" moral dan krisis multidimensional pendekatan zikir, penguatan tauhid, dan dzikrullah diyakini mampu menjadi benteng penenang jiwa serta memperkuat ketahanan kolektif masyarakat.
Rangkaian acara Gebyar Pengajian Anti Gempa dan Zikir Manaqib ini sukses ditutup pada pukul 10.00 WIB, yang kemudian dilanjutkan dengan sesi sakral berupa pembelajaran Talqin Zikir bagi para jemaah.
Melalui sinergi antara lembaga ekonomi desa, ulama, dan masyarakat, kegiatan di Tirta Mulya, Karawang ini membuktikan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan (sustainable development) harus bertumpu pada dua pilar utama: kesejahteraan ekonomi yang produktif dan ketahanan spiritual yang kokoh. Dari sinilah lahir generasi bangsa yang tangguh, mandiri, dan berakhlak mulia.
Niko Hasanudin
Belum ada komentar.