PEMIMPIN YANG HEBAT TIDAK DIUKUR DARI LIKE, TAPI DARI BEKAS LANGKAH KERJANYA UNTUK BANGSA.


[PEMIMPIN YANG HEBAT TIDAK DIUKUR DARI LIKE, TAPI DARI BEKAS LANGKAH KERJANYA UNTUK BANGSA.]

JAKARTA-INFONEWS TERKINI. 

 Dr. Suriyanto.Pd.,SH.,MH.,Mkn.

Popularitas kepemimpinan bisa dibeli. Elektabilitas bisa dipoles. Buzzer bisa disewa. Tetapi bekas langkah kinerja seorang pemimpin untuk rakyat tidak bisa dipalsukan, semua terlihat dari fakta dan rekam jejak digital yang benar.

Kita sering terjebak dalam mengukur keberhasilan kinerja seorang pemimpin dari trending topic, dari jumlah follower, dari sorak sorai di panggung kampanye. Padahal itu semua panggung. Bukan dapur kerja.

Amanat rakyat itu berat. Bukan soal disukai. Bukan soal viral. Amanat rakyat adalah soal perut yang terisi, anak yang sekolah, harga yang stabil, dan keadilan yang ditegakkan serta merata.

Pemimpin yang berhasil adalah yang berani mengambil keputusan tidak populer hari ini, demi rakyat bisa tidur nyenyak 5 tahun ke depan. Bukan yang mengejar tepuk tangan hari ini, lalu meninggalkan bom waktu kedepannya.

Lihat tolok ukurnya. Bukan berapa banyak baliho. Tapi berapa banyak stunting yang turun. Bukan berapa banyak pidato. Tapi berapa banyak lapangan kerja yang benar-benar tercipta.

Bukan berapa kali muncul di TV. Tapi berapa kali turun ke pasar, dengar keluhan pedagang, lalu kebijakan berubah karena itu. Bukan berapa banyak proyek diresmikan. Tapi berapa banyak proyek yang tidak mangkrak dan manfaatnya dirasakan oleh rakyatnya.

Popularitas membuat pemimpin disanjung. Elektabilitas membuat pemimpin dipilih. Tapi integritas yang membuat pemimpin dikenang. Dan integritas diuji saat tidak ada kamera.

Pemimpin sejati berani berkata "tidak" kepada oligarki dan asing. Berani membubarkan bancakan. Berani memotong anggaran seremonial demi membeli pupuk untuk petani. Itu menyakitkan. Tapi itulah amanat dari rakyatnya.

Rakyat tidak butuh pemimpin yang pandai pencitraan. Rakyat butuh pemimpin yang pandai menyelesaikan masalah. Air mati, dia turun. Jalan rusak, dia kejar kontraktor. Harga naik, dia sikat kartel.

Keberhasilan juga diukur dari keberanian mendelegasikan, bukan memonopoli. Dari keberanian jujur saat gagal, bukan menyalahkan orang. Dari keberanian meninggalkan sistem yang busuk, meski sistem itu dulu mengantarkannya berkuasa.

Pemimpin yang hanya mengejar elektabilitas akan sibuk bagi-bagi bansos saat pemilu. Pemimpin yang menjalankan amanat akan sibuk membangun sekolah, irigasi, dan koperasi agar rakyat tidak butuh bansos selamanya.

“Ingat. Sejarah tidak mencatat pemimpin karena berapa kali dia disukai. Sejarah mencatat karena berapa banyak hidup yang dia ubah. Soekarno dikenang karena kemerdekaan. Bukan karena polling.

Maka publik harus cerdas. Jangan tertipu angka survei. Tanya: Anak saya dapat sekolah gratis tidak? Ibu saya dapat layanan kesehatan tidak? Harga beras di warung turun tidak? Itu barometernya. Karena hasil survey itu pasti dibayar tidak gratis.

Pemimpin yang amanah tidak akan alergi kritik. Karena dia tahu kritik adalah sebagai GPS kepemimpinannya. Dia tidak akan alergi transparansi. Karena dia tahu uang yang dia kelola adalah uang rakyat, bukan uang pribadi.

Keberhasilan juga berarti meninggalkan institusi yang lebih kuat dari dirinya. Bukan meninggalkan dinasti. Bukan meninggalkan tim sukses. Tapi meninggalkan sistem yang jalan walau dia sudah tidak menjabat.

Kalau setelah 5 atau 10 tahun jabatannya selesai, rakyat masih antre, masih miskin, masih takut bersuara, maka gagal. Mau elektabilitasnya 90% pun, itu gagal.

Jadi berhenti mengukur pemimpin dari panggung. Mulai ukur dari dapur. Dari sawah. Dari kelas. Dari rumah sakit. Karena pada akhirnya, pemimpin yang berhasil bukan yang paling banyak disukai. Tapi yang paling banyak berguna. Dan berguna, itulah amanat Rakyat.

Sumber -

*) Praktisi Hukum/Akademisi/Ketum PWRI


0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka