- Oleh Infonews871
- 26, Jun 2026
JAKARTA-INFONEWS TERKINI.
Seorang peserta Latihan Dasar Militer (Latsarmil) KDKMP/KNMP yang memutuskan mengundurkan diri membagikan pengalaman pribadinya selama mengikuti pelatihan. Di awal keterangannya, ia menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya lima peserta yang mengikuti program tersebut.
Menurut pengakuannya, sebelum mengikuti pelatihan ia telah menyampaikan secara terbuka riwayat penyakit yang dimilikinya saat pemeriksaan kesehatan. Karena dinyatakan lolos, ia menganggap kondisi kesehatannya masih memenuhi syarat dan sistem pelatihan yang dijalankan tetap dapat diikuti oleh peserta dari kalangan sipil.
Namun, setelah memasuki masa pelatihan di barak, ia mengaku mendapati kenyataan yang berbeda. Ia menilai aktivitas yang dijalani cukup berat, meskipun tidak seberat pendidikan taruna militer. Jadwal kegiatan disebut sangat padat, dengan waktu istirahat yang minim, sekitar tiga hingga empat jam setiap hari. Selain itu, peserta juga menjalani latihan fisik seperti Peraturan Baris Berbaris (PBB) selama berjam-jam di lapangan.
Selain beban fisik, ia juga menyoroti persoalan kebutuhan dasar, khususnya ketersediaan air minum. Menurut pengalamannya, pada lima hari pertama pelatihan peserta sempat mengalami keterbatasan air minum. Bahkan, ada hari di mana satu peserta hanya memperoleh sekitar satu hingga satu setengah liter air. Setelah beberapa hari, air galon mulai disediakan, namun menurutnya jumlahnya masih belum mencukupi kebutuhan seluruh peserta.
Dari sisi pelayanan kesehatan, peserta tersebut menilai penanganan terhadap peserta yang mengalami sakit masih perlu mendapat perhatian. Ia mengaku peserta yang memiliki riwayat penyakit tetap mengikuti kegiatan dan diminta melapor apabila merasa tidak sanggup melanjutkan aktivitas. Menurut pengalamannya, beberapa peserta yang mengeluhkan kondisi kesehatan awalnya dianggap hanya mengalami kelelahan biasa sebelum akhirnya mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Ia kemudian menceritakan pengalaman pribadinya ketika beberapa kali mendatangi ruang kesehatan karena kondisi tubuhnya terus menurun. Pada salah satu kesempatan, ia mengaku sudah sangat lemah hingga kesulitan berbicara, namun saat itu disebut hanya dianggap mengalami kelelahan. Setelah kondisinya semakin memburuk hingga sempat pingsan, barulah ia dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk mendapatkan penanganan medis.
Tak hanya itu, ia juga mengisahkan pengalaman peserta lain yang menurutnya mengalami hipotermia hingga tubuhnya sulit digerakkan. Berdasarkan kesaksiannya, peserta tersebut awalnya diminta kembali ke barak sebelum akhirnya dievakuasi setelah kondisinya semakin memburuk.
Dalam keterangannya, ia juga menyebut adanya beberapa kasus lain, seperti peserta yang memiliki riwayat asma namun tetap mengikuti kegiatan dan sempat dimarahi saat latihan, peserta yang mengalami cedera dengan penanganan yang menurutnya kurang memadai, hingga dugaan adanya tindakan kekerasan fisik serta bullying selama pelatihan.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa dirinya tidak bermaksud menyudutkan pihak mana pun. Ia menyadari pengalaman setiap peserta maupun setiap lokasi pelatihan bisa saja berbeda. Ia hanya membagikan pengalaman pribadinya selama kurang lebih satu minggu mengikuti Latsarmil sebelum akhirnya memutuskan mengundurkan diri karena kondisi kesehatan.
Menurutnya, kegiatan pelatihan sebenarnya masih dapat dijalani apabila kondisi fisik peserta benar-benar prima. Namun ia berharap evaluasi terhadap beban fisik, waktu istirahat, ketersediaan kebutuhan dasar, serta sistem penanganan kesehatan dapat menjadi perhatian agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Kesaksian di atas merupakan pengalaman pribadi salah satu peserta yang mengundurkan diri. Hingga saat ini, belum ada hasil investigasi resmi yang memverifikasi seluruh klaim tersebut.
Red (Ag).
Belum ada komentar.