- Oleh Infonews871
- 12, Feb 2026
SUBANG,INFONEWS –
Sepekan berlalu sejak banjir bandang luapan Sungai Cipunagara menerjang, luka materiil yang ditinggalkan bagi warga Desa Mulyasari, Kecamatan Pamanukan, masih menganga. Tak hanya merusak harta benda elektronik, infrastruktur vital berupa jalan tanggul penghubung antar-dusun kini dalam kondisi kritis dan membahayakan nyawa.
Menanggapi lambatnya respons permanen dari instansi terkait, Pemerintah Desa Mulyasari bersama warga mengambil langkah darurat. Pada Jumat (20/02/2026) malam, selepas ibadah sholat Tarawih, puluhan warga Dusun Kedung Gede bahu-membahu memperbaiki akses jalan yang hancur.
Titik kerusakan terparah berada di Dusun Kedung Gede RT 28 RW 11, yang merupakan urat nadi penghubung antara Dusun Pamugas dan Dusun Bojong. Kondisi jalan yang amblas dan berlubang akibat rendaman air banjir pekan lalu menciptakan risiko kecelakaan tinggi bagi pengguna jalan.
"Langkah ini adalah penanganan awal. Fokus kami adalah pengarugan menggunakan atras/sirtu pada titik-titik jalan yang hancur agar pengendara roda dua maupun roda empat tidak terpeleset atau jatuh," ujar Hasannudin Massawi, S.Pd., Kepala Desa Mulyasari, di lokasi kerja bakti.
Meski semangat gotong royong warga patut diapresiasi, aksi "tambal sulam" ini menyingkap tabir masalah yang lebih besar:
1.Ketahanan Infrastruktur yang Rendah: Jalan tanggul yang mudah amblas menunjukkan perlunya spesifikasi material yang lebih kuat menghadapi luapan Sungai Cipunagara.
2.Ketergantungan pada Swadaya: Kerja bakti warga adalah solusi jangka pendek. Tanpa perbaikan permanen (betonisasi atau penguatan struktur), jalan ini akan kembali hancur pada hujan berikutnya.
3.Tanggung Jawab Lintas Instansi: Tanggul sungai seringkali berada di bawah wewenang BBWS atau pemerintah daerah, bukan sekadar ranah pemerintah desa.
Hasannudin menegaskan bahwa keterlibatan warga adalah bukti kepedulian masyarakat terhadap akses mobilitas mereka sendiri. Namun, ia secara tegas meminta pihak terkait untuk tidak menutup mata terhadap kondisi di lapangan.
"Kami menunggu tindak lanjut dan penanganan lanjutan dari pihak terkait. Penanganan permanen sangat dibutuhkan agar akses ekonomi dan mobilitas warga antar-dusun tidak terus terganggu setiap kali musim penghujan tiba," pungkasnya.
Darno Dj
Belum ada komentar.