- Oleh Infonews871
- 23, May 2026
KARAWANG,INFONEWS –
Kasus penggerebekan buronan atau Daftar Pencarian Orang (DPO) narkoba di wilayah Pebayuran, Kabupaten Bekasi, mendadak menjadi sorotan publik. Nama Ketua Asosiasi Pemerintahan Desa Seluruh Indonesia (Apdesi) Jawa Barat, H. Sukarya WK, ikut terseret dan menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Sukarya dituding melakukan intervensi, intimidasi, hingga menodongkan senjata api (senpi) saat proses penggerebekan berlangsung. Menanggapi rumor yang beredar liar tersebut, Sukarya akhirnya angkat bicara dan membantah keras seluruh tuduhan.
Saat ditemui awak media di Polres Karawang pada Selasa (2/6/2026), Sukarya menegaskan bahwa narasi yang beredar di media sosial adalah hoaks dan tidak berdasar.
“Tidak benar saya melakukan intervensi, intimidasi, bahkan mengacung-ngacungkan senjata api di lokasi penggerebekan. Apa ada buktinya? Apakah ada foto-fotonya saat saya mengacungkan senjata api?” ujar Sukarya dengan nada tegas.
Di era digital, tantangan Sukarya mengenai "bukti foto atau video" menjadi poin krusial. Publik kerap kali menghakimi seseorang di media sosial tanpa adanya bukti konkret (trial by social media), sebuah fenomena yang sering merugikan reputasi pejabat publik sebelum proses hukum resmi berjalan.
Untuk meluruskan simpang siur, Sukarya membeberkan kronologi kehadirannya di lokasi penggerebekan Pebayuran. Ia menjelaskan bahwa keberadaannya di sana sama sekali tidak terkait dengan kasus narkoba, melainkan urusan personal sang istri yang menjadi korban dugaan penggelapan mobil.
"Jadi antara pihak kami dan Polres Karawang memiliki dua kepentingan berbeda dengan target orang yang sama. Kami mengejar pelaku penggelapan mobil, sedangkan Polres Karawang memburu DPO narkoba," urai Sukarya.
Kasus yang menimpa keluarga Ketua Apdesi Jabar ini sebenarnya menjadi pelajaran hukum dan finansial yang sangat berharga bagi masyarakat luas. Sukarya mengungkapkan istrinya menjadi korban modus operandi gadai mobil bodong yang berujung kerugian hingga ratusan juta rupiah.
Tidak tanggung-tanggung, ada tiga unit kendaraan mewah yang raib dalam pusaran kasus ini:
1.Toyota Fortuner
2.Honda Freed
3.Toyota Agya
Menutup klarifikasinya, H. Sukarya WK menegaskan tidak akan lari dari tanggung jawab ataupun menggunakan jabatannya sebagai Ketua Apdesi Jabar untuk mengintervensi hukum. Ia menyatakan siap kooperatif penuh dengan aparat penegak hukum (APH).
“Saya sebagai warga negara yang baik siap menjalani proses hukum dan menjelaskan persoalan ini secara transparan,” pungkasnya.
Red
Belum ada komentar.