Coffee Painting Rudi Winarso di Stan A32 JCW#6 Curi Perhatian Menteri PPN/Bappenas


[Ket.foto : Rudi S(penulis buku) Rahadi Abra ( Ketua Jogja Coffee Week),Rudi Winarso ( Coffee Painting) Prof. Rahmat Pambudi (Mentri Bappenas RI), Prof Suyanto ( Owner & Founder Kampus AMIKOM ),Pulung WP.(penggiat kopi, entrepreneur)]

1001041973.jpg
Ket foto : Menteri Bappenas bersama Rudi W dan stan Coffee painting

YOGYAKARTA —Infonews871.com-

Jogja Coffee Week (JCW) #6 ti

1001041972.jpg
Ket foto : Pengunjung stan coffe painting

dak hanya menjadi ajang mempertemukan petani, roaster, barista, pelaku usaha dan penikmat kopi. Perhelatan yang berlangsung di Hall B-C Jogja Expo Center (JEC), Yogyakarta, 4–6 September 2026, juga menjadi ruang bagi lahirnya berbagai inovasi pemanfaatan kopi di luar produk minuman.

Salah satunya terlihat di Stan A32 Coffee Painting, karya pelukis Rudi Winarso, yang pada Sabtu (5/9/2026) mendapat perhatian saat dikunjungi Menteri PPN/Kepala Bappenas Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S. 

Jogja Coffee Week #6 

Coffee Painting menawarkan pendekatan berbeda terhadap kopi. Bukan hanya biji kopi yang diolah menjadi minuman, tetapi kopi dan ampas kopi dimanfaatkan sebagai bagian dari material untuk menghasilkan karya seni lukis.

Di tangan Rudi Winarso, material yang selama ini identik dengan sisa produksi tersebut diolah menjadi karya visual yang memiliki nilai estetika sekaligus value ekonomi.

Kunjungan Menteri PPN/Kepala Bappenas tersebut menjadi perhatian tersendiri karena gagasan Coffee Painting sejalan dengan pentingnya mendorong kopi tidak berhenti sebagai komoditas mentah, tetapi dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.

Pesan mengenai pentingnya value added memang menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam JCW #6. Ketua Organizing Committee JCW #6, Rahadi Saptata Abra, sebelumnya menyampaikan bahwa pengembangan industri kopi perlu bergerak dari sekadar menjual green bean menuju produk dan pengalaman yang memberikan nilai lebih. 

Dari Ampas Kopi Menjadi Karya Bernilai

Bagi Rudi Winarso, Coffee Painting bukan sekadar eksperimen seni. Gagasan tersebut membuka kemungkinan pengembangan ekonomi kreatif berbasis kopi.

Ampas kopi yang selama ini cenderung dipandang sebagai limbah dapat diberi kehidupan baru melalui proses kreatif menjadi bagian dari karya seni. Hasilnya bukan hanya benda visual, tetapi sebuah produk yang mempunyai cerita: tentang kopi, kreativitas, lingkungan, dan peluang ekonomi.

Konsep tersebut sekaligus membuka peluang untuk dikembangkan menjadi program pelatihan bagi anak-anak muda dan masyarakat umum.

Melalui pelatihan Coffee Painting, peserta dapat diperkenalkan pada teknik dasar pengolahan material kopi, proses kreatif, seni lukis, hingga bagaimana sebuah karya seni dapat dikembangkan menjadi produk bernilai ekonomi.

Dengan demikian, kopi tidak berhenti pada aktivitas minum dan perdagangan biji, tetapi berkembang ke sektor seni, pendidikan, kreativitas, UMKM dan ekonomi kreatif.

JCW #6 Dorong Ekosistem Kopi dari Hulu hingga Hilir

Jogja Coffee Week #6 sendiri mengusung tema “Inclusive Vibes” dan mempertemukan berbagai unsur ekosistem kopi dari hulu hingga hilir. Situs resmi JCW mencatat gelaran tahun ini menghadirkan pameran, kompetisi, Indonesia Coffee Business Summit, workshop, serta berbagai kegiatan kreatif dan budaya. 

Kehadiran berbagai gagasan kreatif seperti Coffee Painting memperlihatkan bahwa masa depan industri kopi tidak hanya ditentukan oleh kualitas biji dan cita rasa dalam cangkir, tetapi juga kemampuan menciptakan nilai tambah dari seluruh ekosistem kopi.

Di tengah penyelenggaraan JCW #6, gagasan tersebut mendapat ruang melalui karya Rudi Winarso di Stan A32.

Dalam kunjungan tersebut, hadir pula sejumlah tokoh dan penggiat yang memiliki perhatian terhadap perkembangan kopi dan kreativitas di Yogyakarta, antara lain Harry S., penulis buku; Rahadi Abra, Ketua Jogja Coffee Week; Prof. Suyanto, Owner & Founder Universitas AMIKOM Yogyakarta; serta Pulung WP, penggiat kopi dan Founder HP Management.

Pertemuan berbagai latar belakang tersebut memperlihatkan bahwa kopi dapat menjadi titik temu antara pemerintah, akademisi, pelaku industri, seniman, komunitas dan generasi muda.

Coffee Painting, Peluang Baru Anak Muda

Karya Rudi Winarso di JCW #6 pada akhirnya menghadirkan pesan sederhana namun kuat: jangan melihat kopi hanya sebagai minuman.

Di balik secangkir kopi terdapat biji, petani, proses pengolahan, kreativitas, teknologi, seni, budaya hingga peluang ekonomi.

Coffee Painting mencoba membuka salah satu pintu tersebut.

Jika dikembangkan secara serius, konsep ini berpotensi menjadi kegiatan edukatif sekaligus ekonomi kreatif yang dapat melibatkan anak-anak muda dan masyarakat. Pelatihan dapat diarahkan tidak hanya untuk menghasilkan karya, tetapi juga membangun keterampilan, kreativitas dan peluang usaha baru berbasis kopi.

Perhatian Menteri PPN/Kepala Bappenas terhadap karya tersebut menjadi momentum penting untuk menunjukkan bahwa nilai tambah kopi bisa lahir dari berbagai sektor, termasuk seni dan kreativitas.

Jogja Coffee Week #6 pun semakin menegaskan posisinya bukan sekadar sebagai pameran kopi, tetapi sebagai ruang pertemuan berbagai gagasan tentang bagaimana kopi Indonesia dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi, budaya dan kreativitas yang lebih luas. 

Stan A32 Coffee Painting Rudi Winarso menjadi salah satu contoh bahwa dari kopi dan bahkan ampas kopi pun dapat lahir karya, keterampilan, peluang usaha, serta nilai ekonomi baru.

(Herman)

  • -

0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka