- Oleh Infonews871
- 21, Apr 2026
Bandung-infonews terkini - jumat,1-04-26-Penulis buku Sekolah Berdaulat, Woko Hadi Pristiawan, mengungkap fakta lapangan: banyak sekolah hanya ‘bertahan hidup’ dan belum memiliki sistem keuangan mandiri yang berkelanjutan.
Banyak sekolah hari ini terlihat berjalan normal, Padahal di baliknya, mereka sedang berjuang menutup biaya listrik, gaji guru, dan operasional harian.
Pertanyaannya: apakah sistem pendidikan kita sedang tidak baik-baik saja.
Fenomena tersebut menjadi sorotan serius penulis sekaligus konsultan pendidikan, Woko Hadi Pristiawan, yang selama hampir dua dekade terlibat langsung dalam pendampingan berbagai sekolah di Indonesia.
Melalui bukunya Sekolah Berdaulat, ia mengungkap bahwa banyak lembaga pendidikan saat ini berada dalam kondisi “bertahan hidup”, bukan berkembang. Ketergantungan yang tinggi terhadap dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dinilai menjadi salah satu penyebab utama rapuhnya sistem keuangan sekolah.
“BOS itu membantu, tapi bukan solusi utama. Banyak sekolah akhirnya kehilangan kemampuan untuk mandiri karena terlalu bergantung,” ujar Woko.
Menurutnya, ketika pencairan dana terlambat, dampaknya langsung terasa: gaji guru tertunda, fasilitas terbengkalai, hingga kualitas pembelajaran ikut menurun.
Berdasarkan pengalaman pendampingannya sejak 2007, Woko Hadi Pristiawan menemukan pola yang berulang di banyak sekolah,Ketidakseimbangan antara biaya operasional dan pendapatan,Minimnya strategi keuangan jangka panjang, Ketergantungan pada satu sumber pendanaan, Rendahnya transparansi kepada masyarakat.
Kondisi ini, jika dibiarkan, berpotensi menurunkan martabat pendidikan itu sendiri.
Sebagai solusi, Woko Hadi Pristiawan menawarkan konsep “Sekolah Berdaulat”, yaitu model pendidikan yang Mandiri secara finansial,Transparan dalam pengelolaan dana Mengoptimalkan sumber pendanaan alternatif seperti CSR dan kemitraan,Tetap menjaga nilai moral dan tujuan pendidikan.
Sebagai penulis dan konsultan pendidikan, Woko Hadi Pristiawan menegaskan bahwa sekolah harus dikelola layaknya institusi profesional, bukan sekadar tempat belajar yang pasif menunggu bantuan.
Dalam pandangannya, narasi “sekolah gratis” seringkali disalahartikan oleh masyarakat.
Ia menilai, tanpa perhitungan yang matang, konsep tersebut justru berisiko menurunkan kualitas layanan pendidikan.
“Pendidikan berkualitas itu pasti membutuhkan biaya. Yang harus kita benahi adalah sistem pengelolaannya, bukan menutup mata terhadap kebutuhan riil di lapangan,” tegasnya.
Melalui gagasan yang ia bangun, Woko Hadi Pristiawan memiliki visi besar agar sekolah di Indonesia dapat:
Berdiri secara mandiri tanpa ketergantungan berlebihan
Memberikan layanan pendidikan yang adil dan berkualitas
Menciptakan ekosistem pendidikan yang berkelanjutan
Ia juga mendorong perubahan pola pikir seluruh pemangku kepentingan pendidikan—mulai dari yayasan, kepala sekolah, hingga masyarakat.
Di tengah tantangan pendidikan yang semakin kompleks, gagasan Sekolah Berdaulat menjadi pengingat bahwa masa depan pendidikan tidak bisa hanya bergantung pada bantuan.
Dibutuhkan keberanian untuk berubah, sistem yang kuat, dan manajemen yang cerdas.
Karena pada akhirnya, pendidikan yang bermartabat hanya bisa lahir dari sekolah yang benar-benar berdaulat.
Red by innews
Belum ada komentar.