- Oleh Infonews871
- 08, Sep 2026
Sleman-Infonews871.com-
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Bambang Kuntoro AP.,M.Si , dalam sesi wawancara khusus bersama media anggota IWO Indonesia Sleman terkait situasi terkini gunung merapi dan kemarau panjang bertempat di Lobby kantor Bupati Sleman,selasa (8/9/2026).
Bambang Kuntoro menyampaikan keterangan tentang antisipasi Perubahan iklim dan persiapan menghadapi erupsi gunung merapi.
Badan Pensnggulangan Bencana Daerah Kabupaten Sleman telah memiliki dukumen kajian resiko bencana. Dalam kajian tersebut telah dipetakan 2 potensi ancanam di Kabupaten Sleman.
Pertama erupsi Gunung Merapi.
Kita telah memiliki rencana kontijensi yang melibatkan semua stskeholder ; Pemda ,TNI, POLRI, Bazarnas ,PMI, dll.
Dalam 6 tahun ini ,sejak tahun 2020 status merapi berada pada status level 3 atau siaga pemerintah sampai saat ini tidak merubah status ini karena ada konsekuensinya.
Jika status merapi kita ubah ke level 4 stau awas maka akan menimbulkan kepanikan terutama masyarakat yang tinggal didaerah rawan bencana merapi yang masih tinggal diatas, atau jika kita turunkan ke level 2 atau waspada juga tidak berani karena warga masyarakat akan cenderung santai, kita terus nemantau situasi yang terus berkembang dan dapat berubah sewaktu-waktu.jadi pemerintah tetap menetapkan status siaga 3 gunung merapi.
Ada wilayah atau area yang harus selalu bersih dari aktifitas masyarakat di kawasan merapi pada radius 7km arah barat daya karena erupsi gunung merapi cenderung kearah barat daya, sementara wilayah selatan radius aman adalah 5 km.
Langkah-langkah mitigasi.
- mitigasi struktural
- Mitigasi non struktural
Mitigasi struktural meliputi perbaikan barak pengungsian, perbersihan dan pelebaran jalur evakuasi,serta perbaikan rambu evakuasi.
Non struktural yaitu komunikasi kepada masyarakat hal perkembangan situasi setiap saat, persiapan logistik, sitim sister vilage bila, terjadi bencana yang meluas evakuasi masyarakat dipindah ke bawah dengan jarak yang lebih aman.
Jumlah masyarakat terdampak erupsi merapi diprediksi mencapai 37 ribu orang yang berada di 3 kecamatan, 7 desa. Hal ini yang terus kita pantau secara rutin.
Kedua dampak Kemarau panjang tahun ini(2026)
Saat ini dikabupaten Sleman kami lakukan droping air bersih di beberapa wilayah terdampak walaupun ini sebetulnya tidak selalu terjadi di kabupaten Sleman, karena wilayah kabupaten sleman merupakan daerah tangkapan air. Droping air bersih sampai kemarin tgl.(7/9/2026) telah terdistribusi 60 rit atau 293 ribu liter air bersih, didaerah terdampak yaitu kapanewon Turi , Moyudan, Tempel dan Godean.
Dampak kemarau panjang tahun ini mengakibatkan penurunan debit air dikali krasak yang berhulu di gunung merapi , turun 2/3 %, namun sebetulnya masih ada solusi lain
yaitu mencari sumber mata air baru, dan memaksimalkan sumber air dalam yang berada dibeberapa wilayah, tinggal kita memperbaiki pompanya yang rusak.
Pemanfaatan distribusi Air minum melalui PDAM Tirta Sembada Sleman saat ini juga sudah masuk ke wilayan Gunungkidul,terutama daerah perbatasan dengan kabupaten Sleman, tercatat sudah 500 sambungan , yang diambil dari Jaringan pelayanan wilayah timur Randusari, Bokoharjo Kapanewon Prambanan,
Menurut data dari BBWSO (Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak) air untuk kebutuhan pertanian yang mengalir melalui selokan mataram berasal dari Bendungan Karangtalun Sungai Progo yang saat ini debit airnya menyusut atau turun 1/3 akibat kemarau panjang sehingga berpengaruh terhadap kebutuhan air untuk pertanian. Selain itu air tersebut juga dibagi untuk kebutuhan pengolahan air bersih yang dikelola oleh SPAM sektor Kartamantul (yogyakarta, Sleman dan Bantul ) yang dikelola melalui
Sistim Penyediaan Air Minum (SPAM) Regional kartamantul melayani wilayah kota Yogyakarta, kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul dengan kapasitas 400 liter per detik.
(Herman)
Belum ada komentar.