- Oleh Infonews871
- 26, Apr 2026
Karawang,Infonews871.com
Panggung budaya sekaligus lautan emosi ketika Kirab Mahkota Binokasih digelar meriah di jantung Kota Pangkal Perjuangan, pada hari Sabtu (9/5/2026)
Ribuan masyarakat memadati sepanjang jalan untuk menyaksikan langsung prosesi budaya yang membawa simbol bersejarah peninggalan Kerajaan Sunda tersebut.
Nuansa sakral berpadu dengan semangat masyarakat yang antusias menyambut kirab kebudayaan kebanggaan Tanah Pasundan.
Suasana semakin hangat saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, hadir di tengah kerumunan warga.
Sebelum menaiki kuda untuk memimpin jalannya kirab, pria yang akrab disapa KDM itu memilih menghampiri masyarakat terlebih dahulu.
Ia tampak menyalami warga satu per satu, memeluk beberapa lansia, hingga mendengarkan curahan hati masyarakat yang sudah menunggu sejak sore hari.
Momen tersebut sontak mengundang haru masyarakat yang berada di lokasi.
Di tengah ketatnya pengamanan, suasana mendadak emosional ketika seorang warga Karawang bernama Ida berhasil mendekati KDM dan bersalaman langsung.
Dengan mata berkaca-kaca, Ida mengaku sangat terharu bisa bertemu langsung dengan sosok pemimpin yang selama ini ia kagumi.
“Saya benar-benar terharu bisa lihat langsung. KDM Bapak aing, sehat-sehat terus ya Pak,” ucap Ida dengan suara bergetar.
Sapaan “Bapak Aing” yang disampaikan Ida menggambarkan kedekatan emosional masyarakat Jawa Barat dengan sosok Dedi Mulyadi yang dikenal aktif turun langsung ke masyarakat.
Setelah menyapa warga, KDM kemudian menaiki kuda yang telah disiapkan untuk memimpin iring-iringan Kirab Mahkota Binokasih.
Didampingi Sekretaris Daerah Jawa Barat Herman Suyatman, KDM tampil mengenakan busana adat Sunda sambil melambaikan tangan kepada masyarakat di sepanjang Jalan Ir H Juanda, Kelurahan Nagasari, Karawang.
Kehadirannya dalam kirab budaya tersebut tidak hanya dipandang sebagai agenda seremonial pemerintahan semata.
Banyak warga menilai sosok KDM berhasil menghadirkan perpaduan antara ketegasan pemimpin dan kedekatan dengan rakyat.
Bagi masyarakat yang hadir, pemandangan seorang gubernur menunggang kuda sambil tetap menyapa rakyatnya menjadi simbol kepemimpinan yang membumi namun tetap berwibawa.
Kirab Mahkota Binokasih sendiri menjadi salah satu simbol penting pelestarian budaya Sunda. Mahkota tersebut dikenal sebagai lambang kebesaran sekaligus simbol kasih sayang dalam sejarah kerajaan Sunda tempo dulu.
Tak heran jika prosesi budaya itu selalu mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah di Jawa Barat.
Acara yang berlangsung hingga malam hari tersebut juga memperlihatkan bagaimana budaya mampu menjadi ruang pemersatu antara pemimpin dan masyarakat.
Di tengah modernisasi yang terus berkembang, tradisi seperti Kirab Mahkota Binokasih dinilai tetap relevan karena mampu menjaga identitas budaya sekaligus mempererat hubungan sosial masyarakat Sunda.
Antusiasme warga yang terus bertahan hingga acara selesai menjadi bukti bahwa nilai budaya dan kedekatan emosional dengan pemimpin masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Jawa Barat.
(Nurhapipah)
Belum ada komentar.