​Strategi "Double Manfaat": GIBAS Subang Borong Dagangan PKL untuk Takjil, Solusi Cerdas Gerakkan Ekonomi Lokal


SUBANG,INFONEWS – 

1772383918236.jpg

Di tengah fenomena musiman pembagian takjil yang menjamur di bulan Ramadhan, Gabungan

1772383908837.jpg

Inisiatif Barisan Anak Siliwangi (GIBAS) Resor Subang menghadirkan standar baru dalam aksi sosial. Bukan sekadar memberi, ormas berseragam hitam ini menerapkan strategi ekonomi mikro yang krusial: pemberdayaan Pedagang Kaki Lima (PKL).

​Pada Minggu (1/3/2026), kawasan Alun-Alun Pemkab Subang menjadi saksi bagaimana sebuah organisasi masyarakat mampu mengombinasikan nilai spiritual dengan keberpihakan ekonomi yang nyata.

​Kritik utama terhadap aksi bagi-bagi takjil gratis biasanya terletak pada potensi "mematikan" lapak pedagang sekitar karena warga memilih antre gratisan. Namun, GIBAS membalikkan narasi tersebut. Ratusan paket takjil yang dibagikan tidak dipesan dari katering besar, melainkan diborong langsung dari lapak-lapak PKL di sekitar alun-alun.

​Ketua Umum GIBAS, Iwan Irawan Prayoga, menegaskan bahwa langkah ini adalah bentuk kepedulian yang terukur.

​“Kami ingin dampak yang dihasilkan bersifat ganda. Warga yang melintas terbantu untuk berbuka, dan pedagang kecil di sini mendapatkan kepastian omzet. Ini adalah upaya menguatkan ekonomi akar rumput,” tegas Iwan.

Asep, salah satu pedagang di Alun-Alun Subang, mengakui dampak instan dari aksi ini. Di saat pedagang lain seringkali harus menunggu hingga detik-detik terakhir menjelang azan Maghrib untuk menghabiskan dagangan, sore itu ia bisa pulang lebih cepat dengan kantong terisi.

“Alhamdulillah, baru kali ini ada yang memborong untuk dibagikan kembali. Ini sangat membantu kami,” ujarnya.

Kehadiran GIBAS dalam momentum ini memberikan edukasi penting bagi organisasi masyarakat lainnya. Seringkali, ormas terjebak pada citra yang kaku. Namun, melalui aksi ini, GIBAS Resor Subang menunjukkan fungsi intermediari sosial yang sehat.

​Ketua GIBAS Resor Subang, Raka, menjelaskan bahwa kegiatan ini melibatkan seluruh jajaran pengurus untuk memupuk kekompakan.

“Ini adalah wujud nyata kepedulian. Di bulan Ramadhan, kami ingin hadir sebagai perekat silaturahmi sekaligus pemicu semangat gotong royong,” kata Raka.

Secara teologis, aksi ini sejalan dengan nilai-nilai filantropi Islam. Memberi makan orang yang berpuasa memiliki kemuliaan yang setara dengan orang yang berpuasa itu sendiri (HR. Tirmidzi). Namun, secara sosiologis, metode "membeli untuk berbagi" jauh lebih edukatif karena:

1.​Menjaga Perputaran Uang: Uang tetap berputar di ekosistem pedagang lokal Subang.

2.​Menjaga Martabat Pedagang: Pedagang tidak merasa dikasihani, melainkan diapresiasi hasil karyanya melalui transaksi jual-beli yang sah.

3.​Efisiensi Logistik: Mengurangi limbah plastik berlebih dari produksi massal katering luar.

Kegiatan yang ditutup dengan buka puasa bersama secara lesehan ini menunjukkan sisi humanis ormas yang duduk sama rendah dengan masyarakat. Kehadiran pimpinan pusat juga menandakan adanya instruksi struktural untuk menjaga konsistensi gerakan sosial ini.

Harapannya, model pemberdayaan PKL seperti ini tidak berhenti saat Idul Fitri tiba. Subang membutuhkan gerak kolektif yang berkelanjutan untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan berdaya secara ekonomi.

Darno Dj

 

  • -

0 Komentar :

    Belum ada komentar.

Mungkin anda suka