YOGYAKARTA — Infonews871.com-
Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar kegiatan Coffee Morning with Mayor di Ruang Arjuna, lantai 3, Selasa (13/10/2026). Kegiatan ini menjadi ruang dialog antara Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, dengan mahasiswa untuk menghimpun gagasan, masukan, dan ide-ide kreatif bagi pembangunan Kota Yogyakarta.
Mengusung tema “Jogja Otentik Konkret”, forum ini menekankan pentingnya menjaga identitas Yogyakarta sebagai kota budaya, kota wisata, kota pelajar, sekaligus daerah yang memiliki keistimewaan. Gagasan tersebut diharapkan dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata yang melibatkan generasi muda.
Sejumlah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta hadir dalam kegiatan ini. Mereka merupakan perwakilan dari Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga (UIN Sunan Kalijaga), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Islam Indonesia (UII), serta sejumlah perguruan tinggi swasta lainnya.
Kegiatan ini turut melibatkan sejumlah tokoh dan penggerak komunikasi publik, yakni Pulung WP dari HP Management sekaligus PR Ruang Tamu Jogja Istimewa, Titik Renggani selaku penyiar senior Pro 4 LPP RRI Yogyakarta, Drs. Taufan Pamungkas, M.Si., selaku Kepala LPP RRI Yogyakarta, serta Dr. Haryadi Baskoro, penulis dan pakar Keistimewaan DIY yang juga menjadi pemrakarsa Coffee Morning with Mayor 2026.
Hasto Wardoyo: Generasi Muda Menghadapi Tantangan Demografi
Dalam dialog tersebut, Hasto Wardoyo menyoroti tantangan demografi yang semakin penting untuk diperhatikan, khususnya terkait perubahan komposisi penduduk usia muda dan lanjut usia.
“Kita menghadapi beban anak muda yang semakin berat. Karena sejak tahun 2020, jumlah lansia meningkat pesat, sementara jumlah usia muda menurun pesat juga. Ini yang membuat beban kerja anak muda itu berat. Dia harus memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga harus memikirkan generasi tua,” kata Hasto.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya mempersiapkan generasi muda agar memiliki kemampuan, keterampilan, dan kreativitas yang memadai dalam menghadapi perubahan sosial dan demografi.
Menurut Hasto, generasi muda tidak cukup hanya memiliki gagasan dan cita-cita. Mereka juga perlu mengembangkan kemampuan untuk menerjemahkan gagasan tersebut menjadi karya dan tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Kita harus konkret dan produktif. Kita harus punya mimpi yang besar. Ketika kita punya kemampuan, keterampilan, dan kreativitas yang otentik, maka langkah selanjutnya adalah punya langkah konkret untuk mewujudkannya,” ujarnya.
Pesan tersebut sejalan dengan semangat Jogja Otentik Konkret, yakni membangun Yogyakarta dengan tetap berpijak pada identitas dan nilai-nilai lokal, sekaligus mendorong inovasi yang produktif dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
RRI Yogyakarta Siapkan Ruang Kreatif bagi Mahasiswa
Salah satu gagasan penting yang mengemuka dalam kegiatan ini adalah rencana LPP RRI Yogyakarta untuk mewadahi pembentukan dan pengembangan Forum Mahasiswa Keistimewaan DIY.
Forum tersebut diharapkan menjadi ruang komunikasi, kolaborasi, dan pertukaran gagasan bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta. Melalui forum ini, mahasiswa dapat berdiskusi mengenai kebudayaan, pendidikan, pariwisata, serta berbagai persoalan yang berkaitan dengan masa depan Yogyakarta dan keistimewaan DIY.
Selain pengembangan forum mahasiswa, RRI Yogyakarta juga didorong untuk menjadi ruang kreatif dan edukatif yang lebih terbuka bagi masyarakat, khususnya generasi muda.
Sejumlah gagasan yang mengemuka antara lain pengembangan museum RRI Yogyakarta, wisata edukasi, ruang kreatif, forum diskusi, serta tempat berkumpul mahasiswa yang menyediakan kopi lokal Yogyakarta. Gagasan lainnya adalah penyelenggaraan kegiatan nonton bareng film bertema Yogyakarta sebagai sarana mengenalkan sejarah, budaya, dan identitas daerah kepada generasi muda.
Jika dikembangkan secara terencana, berbagai inisiatif tersebut berpotensi memperluas fungsi RRI, bukan hanya sebagai lembaga penyiaran publik, melainkan juga sebagai ruang pembelajaran, pelestarian sejarah, dan pengembangan kreativitas masyarakat.
Pengembangan museum dan wisata edukasi, misalnya, dapat menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mempelajari perjalanan sejarah penyiaran serta peran radio dalam kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat. Sementara itu, ruang kreatif dan diskusi dapat menjadi tempat lahirnya gagasan, karya, serta kolaborasi lintas kampus.
Mahasiswa sebagai Mitra Pembangunan Kota Yogyakarta
Keterlibatan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam membangun dialog yang inklusif. Mahasiswa tidak hanya ditempatkan sebagai peserta kegiatan, tetapi juga sebagai sumber gagasan dan mitra strategis dalam merumuskan masa depan kota.
Sebagai kota pelajar, Yogyakarta memiliki modal sosial yang kuat melalui keberadaan mahasiswa dari beragam latar belakang daerah, budaya, keilmuan, dan pengalaman. Potensi tersebut dapat dikembangkan untuk melahirkan inovasi di bidang pendidikan, kebudayaan, ekonomi kreatif, dan pariwisata.
Di sisi lain, identitas Yogyakarta sebagai kota budaya dan daerah istimewa membutuhkan keterlibatan generasi muda agar nilai-nilai lokal tetap hidup serta mampu menjawab tantangan zaman.
Melalui Coffee Morning with Mayor 2026, dialog antara pemerintah daerah, mahasiswa, insan penyiaran, dan pegiat kebudayaan diharapkan dapat menghasilkan gagasan yang tidak berhenti pada diskusi, tetapi berlanjut menjadi program dan kegiatan yang memberikan manfaat nyata.
Tema “Jogja Otentik Konkret” pun mengandung pesan bahwa menjaga keaslian Yogyakarta tidak berarti menolak perubahan. Sebaliknya, nilai budaya dan keistimewaan daerah dapat menjadi landasan untuk melahirkan kreativitas, inovasi, dan solusi bagi persoalan masyarakat.
Dengan semangat kolaborasi tersebut, Yogyakarta diharapkan terus berkembang sebagai kota yang berakar kuat pada budaya, terbuka terhadap gagasan baru, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkontribusi secara nyata bagi kemajuan daerah.
(Herman)





