SLEMAN — Infonews871.com- Warung Kopi Merapi milik Sumijo yang berada di kawasan lereng Gunung Merapi, tepatnya di dusun Petung, kelurahan Kepuh Harjo, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menarik perhatian awak media.
Pada Kamis (8/10/2026) pagi, sejumlah wartawan yang tergabung dalam Ikatan Wartawan Online Indonesia (IWOI) DPD Kabupaten Sleman yang di wakili Suharmanto waket 2, Danu sekretaris, Fatmawati Bendahara dan Nuning OKK mengunjungi langsung kedai kopi milik Sumijo. Kunjungan tersebut menjadi kesempatan untuk melihat lebih dekat perjalanan Kopi Merapi yang dikenal masyarakat Yogyakarta hingga luar daerah, terutama di kalangan anak muda dan pencinta kopi.
Bukan sekadar menikmati secangkir kopi, kunjungan ini juga menjadi pengalaman merasakan perpaduan cita rasa kopi lokal dengan suasana alam lereng Merapi yang memiliki daya tarik tersendiri.
Di Warung Kopi Merapi milik Sumijo, pengunjung dapat menikmati kopi sembari memandang kemegahan Gunung Merapi. Suasana alam yang khas, udara pegunungan, serta aroma kopi yang tersaji menciptakan pengalaman yang berbeda dibandingkan menikmati kopi di tengah hiruk-pikuk perkotaan.
Bagi pencinta kopi, pengalaman tersebut memberikan sensasi tersendiri, mulai dari aroma yang tercium ketika kopi disajikan hingga tegukan terakhir yang meninggalkan kesan.
Dua Varian Kopi, Arabika dan Robusta
Kopi Merapi yang disajikan di kedai Sumijo menawarkan dua varian utama, yakni Arabika dan Robusta. Keduanya memiliki karakter rasa yang berbeda sehingga dapat dinikmati sesuai selera pengunjung.
Kopi Arabika dikenal memiliki karakter rasa yang lebih kompleks, dengan tingkat keasaman yang bervariasi serta kemungkinan menghadirkan nuansa buah atau fruity. Varian ini cocok bagi penikmat kopi yang menyukai cita rasa ringan dan berlapis.
Sementara itu, kopi Robusta memiliki karakter rasa yang cenderung lebih kuat, pahit, dan pekat, dengan kandungan kafein yang umumnya lebih tinggi dibandingkan Arabika.
Keunikan Kopi Merapi juga tidak terlepas dari lingkungan tumbuh tanaman kopi di kawasan lereng gunung berapi. Tanah vulkanik menjadi salah satu unsur lingkungan yang berpotensi memengaruhi karakter pertumbuhan tanaman dan kualitas biji kopi.
Salah satu pengelola kedai menjelaskan bahwa biji kopi yang digunakan berasal dari tanaman kopi yang dibudidayakan di kawasan lereng Merapi.
“Biji kopinya memang dari lereng Merapi, tanah vulkanik. Jadi rasanya khas,” ujar salah satu pengelola kedai.
Meski demikian, karakter rasa kopi tidak hanya ditentukan oleh tanah tempat tanaman tumbuh. Varietas tanaman, ketinggian lokasi, proses pemetikan, pengolahan pascapanen, penyangraian, hingga teknik penyeduhan turut memengaruhi kualitas cita rasa kopi yang tersaji di dalam cangkir.
Sumijo, Merawat Cita Rasa Kopi Lokal
Bagi Sumijo, keberadaan Warung Kopi Merapi bukan hanya tentang menyajikan minuman kepada pengunjung. Usaha tersebut juga memiliki potensi untuk memperkenalkan kekayaan kopi lokal sekaligus mengangkat daya tarik kawasan lereng Merapi.
Sebagai pemilik warung sekaligus pengolah kopi, Sumijo memiliki peluang untuk membangun hubungan langsung antara hasil perkebunan kopi, proses pengolahan, dan pengalaman menikmati kopi di tempat asalnya.
Konsep tersebut menjadi nilai tambah bagi pengunjung. Mereka tidak hanya datang untuk membeli minuman, tetapi juga dapat mengenal lebih dekat kopi yang tumbuh di lingkungan Merapi serta proses yang menjadikan biji kopi siap diseduh.
Ke depan, pengembangan usaha seperti ini diharapkan mampu mendorong peningkatan nilai tambah kopi lokal. Biji kopi yang diolah dan disajikan langsung kepada konsumen memiliki peluang memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas dibandingkan jika hanya dipasarkan sebagai bahan mentah.
Bagi pelaku usaha kopi lokal, konsistensi kualitas, kebersihan proses pengolahan, pelayanan yang ramah, serta kemampuan menjaga karakter rasa menjadi modal penting untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan.
Kopi dan Panorama Merapi, Potensi Wisata yang Menjanjikan
Kedai Kopi Merapi milik Sumijo juga memperlihatkan bagaimana usaha kuliner sederhana dapat menjadi bagian dari daya tarik wisata berbasis potensi lokal.
Kawasan Cangkringan memiliki karakter alam yang kuat dengan lanskap pegunungan dan kehidupan masyarakat yang berkaitan erat dengan lingkungan Merapi. Dalam konteks tersebut, kedai kopi dapat menjadi ruang pertemuan antara wisatawan, masyarakat setempat, dan produk unggulan daerah.
Tren menikmati kopi tidak lagi sebatas mencari rasa minuman yang nikmat. Sebagian pengunjung juga mencari suasana, cerita di balik produk, pengalaman berinteraksi dengan pemilik usaha, serta kesempatan menikmati panorama alam.
Kombinasi tersebut menjadi peluang bagi Kopi Merapi untuk memperluas pasar, terutama di kalangan anak muda, komunitas pencinta kopi, wisatawan domestik, dan pengunjung dari luar Yogyakarta.
Apabila dikembangkan secara berkelanjutan, kedai kopi berbasis potensi lokal juga berpeluang menciptakan efek ekonomi bagi lingkungan sekitar, mulai dari petani kopi, pemasok bahan baku, pelaku kuliner, hingga usaha kecil lainnya.
Namun, pengembangan wisata kopi tetap perlu memperhatikan kenyamanan pengunjung, pengelolaan sampah, kebersihan lingkungan, serta keselamatan wisatawan sesuai kondisi dan aktivitas Gunung Merapi.
Harapan Sumijo Kopi Lokal Semakin Dikenal dan Memberi Manfaat
Sebagai pemilik warung sekaligus pengolah kopi, Sumijo diharapkan dapat terus mengembangkan Kopi Merapi dengan menjaga kualitas produk dan mempertahankan kekhasan cita rasa kopi yang ditawarkan.
Harapan ke depan, Kopi Merapi tidak hanya dikenal sebagai tempat menikmati minuman, tetapi juga menjadi salah satu pintu untuk memperkenalkan potensi perkebunan, produk olahan, dan wisata berbasis alam di kawasan Cangkringan.
Pengembangan usaha dapat dilakukan melalui peningkatan kualitas pengolahan biji kopi, pengenalan proses sangrai kepada pengunjung, penyediaan informasi mengenai asal-usul kopi, serta kerja sama dengan petani dan pelaku wisata setempat.
Dengan langkah tersebut, nilai ekonomi kopi diharapkan semakin meningkat dan manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Bagi Sumijo, keberhasilan usaha kopi juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produk lokal. Semakin banyak masyarakat yang mengenal dan menghargai kopi dari lereng Merapi, semakin terbuka pula peluang bagi usaha kecil untuk berkembang.
Harapan lainnya, Kopi Merapi dapat terus menjadi tempat singgah yang memberikan pengalaman menyenangkan bagi pengunjung, sekaligus memperkuat citra Cangkringan sebagai kawasan yang memiliki potensi wisata alam dan kuliner khas.
IWOI Sleman Melihat Potensi Kopi Lokal
Kunjungan awak media dari IWOI DPD Kabupaten Sleman menjadi salah satu bentuk perhatian terhadap usaha masyarakat yang memiliki potensi untuk dikembangkan dan diperkenalkan kepada khalayak luas.
Melalui pemberitaan media online, kisah usaha Sumijo dapat menjadi inspirasi mengenai pentingnya kreativitas, ketekunan, dan pemanfaatan potensi lokal dalam membangun usaha.
Kopi Merapi menunjukkan bahwa secangkir kopi dapat menghadirkan lebih dari sekadar cita rasa. Di baliknya terdapat potensi pertanian, proses pengolahan, peluang usaha, dan daya tarik lingkungan yang dapat dikembangkan secara bersama-sama.
Dengan menjaga kualitas serta mengangkat cerita di balik produk, Kopi Merapi milik Sumijo berpeluang terus memperluas pengenalan kopi lokal kepada masyarakat.
Pada akhirnya, menikmati kopi di lereng Merapi bukan hanya tentang menyeruput minuman favorit, melainkan juga tentang merasakan suasana alam, mengenal produk lokal, dan menghargai kerja keras masyarakat yang mengembangkan usaha di kawasan tersebut.
Kopi Merapi, Rasanya Tidak Pernah Ingkar Janji
(Herman)






