YOGYAKARTA — Infonews871.com- Pengembangan kopi sebagai bagian dari ekonomi kreatif, edukasi kewirausahaan, dan pariwisata berkelanjutan menjadi salah satu gagasan menarik dalam kegiatan Coffee Morning with Mayor yang digelar Pemerintah Kota Yogyakarta di Ruang Arjuna, lantai 3, Selasa (13/10/2026).
Dalam forum dialog yang diprakarsai Pemerintah Kota Yogyakarta,HP Management, Haryadi Baskoro(Penulis dan Tokoh KeIstimewaan Yogya dan RRI(Radio Republik Indonesia) Yogyakarta berbagai gagasan disampaikan untuk mendukung pembangunan Kota Yogyakarta yang berkarakter, inovatif, dan mampu melibatkan generasi muda.
Mengusung tema “Jogja Otentik Konkret”, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan gagasan antara pemerintah, mahasiswa, pelaku usaha, dan komunitas untuk merumuskan ide-ide kreatif yang dapat diwujudkan dalam program nyata.
Salah satu peserta yang menyampaikan gagasan dalam forum tersebut adalah Bernadictus Priyanto, pelaku usaha kopi yang sejak 2002 menggeluti pengembangan dan pengelolaan Kopi Rahayu di Gamplong, Moyudan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Selain mengembangkan usaha kopi, Bernadictus juga berperan sebagai eksportir kopi, barista, serta koordinator petani kopi di kawasan Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo.
Kopi Lokal Berpeluang Menembus Pasar Internasional
Pengalaman Bernadictus selama lebih dari dua dekade dalam dunia perkopian memberinya perspektif bahwa kopi bukan sekadar komoditas pertanian, melainkan juga produk budaya, peluang usaha, dan daya tarik wisata.
Kopi yang dikembangkan dan diolahnya mencakup jenis robusta dan arabika. Dalam menjalankan usahanya, ia membidik konsumen domestik maupun pasar internasional, termasuk wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Yogyakarta dan sekitarnya.
Kemampuan berbahasa asing menjadi salah satu modal yang dimanfaatkan Bernadictus untuk memperluas jaringan pemasaran kopi ke luar negeri.
“Bisnis kopi tidak hanya untuk pasar dalam negeri. Kopi Indonesia juga memiliki peluang untuk dinikmati masyarakat mancanegara. Berbekal latar belakang kemampuan bahasa asing, saya mulai memasarkan komoditas kopi ke pasar internasional, selain tetap melayani konsumen lokal,” ungkap Bernadictus.
Menurutnya, potensi kopi Indonesia dapat dikembangkan melalui pendekatan yang terintegrasi, mulai dari budidaya di perkebunan, pengolahan pascapanen, pengenalan karakter cita rasa, penyajian oleh barista, hingga pemasaran kepada konsumen.
Rangkaian proses tersebut membuka peluang usaha yang luas bagi generasi muda, baik sebagai petani, pengolah kopi, barista profesional, pemilik kedai kopi, eksportir, maupun pelaku wisata berbasis perkebunan.
Plantation Tour Coffee, Menggabungkan Kopi dan Pariwisata
Tidak berhenti pada kegiatan budidaya dan perdagangan, Bernadictus juga mengembangkan konsep Plantation Tour Coffee, yaitu wisata edukasi ke perkebunan kopi yang secara khusus menyasar wisatawan mancanegara.
Konsep ini memberikan pengalaman kepada wisatawan untuk mengenal kopi secara langsung dari sumbernya. Pengunjung dapat mempelajari tanaman kopi, proses budidaya, pemetikan buah, pengolahan biji, hingga penyajian kopi.
Wisata berbasis perkebunan tersebut berpotensi memperkuat hubungan antara sektor pertanian dan pariwisata. Petani tidak hanya memperoleh nilai ekonomi dari hasil panen, tetapi juga berkesempatan memperoleh manfaat tambahan melalui layanan edukasi dan pengalaman wisata.
Bagi Yogyakarta dan wilayah sekitarnya, pengembangan wisata kopi dapat menjadi alternatif atraksi yang melengkapi wisata budaya, sejarah, kuliner, dan alam.
Kolaborasi antara pelaku usaha, petani, komunitas, perguruan tinggi, dan pemerintah dinilai penting agar potensi tersebut dapat berkembang secara berkelanjutan.
Usulkan Edukasi Barista dan Festival Kopi Kampus
Dalam forum Coffee Morning with Mayor, Bernadictus menyampaikan usulan agar Pemerintah Kota Yogyakarta mendorong kegiatan kreatif dan edukatif tentang kopi bagi mahasiswa.
Menurutnya, perguruan tinggi dapat menjadi ruang strategis untuk memperkenalkan industri kopi secara lebih luas kepada generasi muda. Edukasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan keterampilan meracik kopi, tetapi juga mencakup pengetahuan tentang komoditas kopi, kewirausahaan, pengelolaan kedai, pemasaran digital, hingga peluang ekspor.
Ia mengusulkan program pengenalan dan pelatihan kopi yang dapat membuka wawasan mahasiswa untuk mengembangkan profesi sebagai barista, membangun kedai kopi, atau menciptakan usaha kreatif berbasis komoditas lokal.
Selain itu, Bernadictus mendorong penyelenggaraan Festival Kopi Kampus yang melibatkan perguruan tinggi di Yogyakarta dan, dalam pengembangannya, kampus-kampus di berbagai daerah di Indonesia.
Festival tersebut diharapkan menjadi wadah pertemuan mahasiswa, petani, barista, pelaku usaha, komunitas kopi, dan pemangku kepentingan lainnya.
Berbagai kegiatan dapat dikembangkan, antara lain kompetisi barista, pelatihan pengolahan kopi, diskusi kewirausahaan, pameran produk kopi lokal, pengenalan teknik roasting, serta promosi peluang usaha dan ekspor.
Bernadictus juga mengusulkan kolaborasi antara Pemerintah Kota Yogyakarta, Radio Republik Indonesia (RRI), perguruan tinggi, komunitas kopi, dan pelaku industri kreatif agar program tersebut memiliki jangkauan yang lebih luas.
“Harapannya, ada kegiatan kreatif dan edukatif tentang kopi bagi mahasiswa. Mereka bisa belajar menjadi barista, merintis kedai kopi, hingga memahami peluang bisnis kopi. Festival Kopi Kampus juga dapat menjadi ruang kolaborasi antarkampus di Yogyakarta dan seluruh Indonesia,” demikian gagasan yang disampaikan Bernadictus.
Hasto Wardoyo dan Semangat Jogja Otentik Konkret
Gagasan pengembangan kopi tersebut sejalan dengan semangat yang diangkat dalam tema “Jogja Otentik Konkret”, yakni menjaga identitas Yogyakarta sekaligus menerjemahkannya ke dalam kegiatan nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Wali Kota Yogyakarta Hasto Wardoyo menjadikan forum Coffee Morning with Mayor sebagai ruang dialog untuk menghimpun gagasan, masukan, dan ide kreatif dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa dan pelaku usaha.
Dalam konteks pengembangan ekonomi kreatif, gagasan Bernadictus menawarkan pendekatan yang menghubungkan potensi komoditas lokal dengan pendidikan, kewirausahaan, pariwisata, dan pemasaran internasional.
Kopi dapat menjadi salah satu media untuk memperkenalkan kreativitas generasi muda sekaligus memperluas jejaring ekonomi antara Yogyakarta dan daerah penghasil kopi di DIY.
Apabila dikembangkan melalui kerja sama lintas sektor, program edukasi dan Festival Kopi Kampus berpotensi menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa sekaligus sarana promosi produk kopi lokal.
Dari Komoditas Menjadi Ekosistem Ekonomi Kreatif
Usulan Bernadictus memperlihatkan bahwa pengembangan kopi dapat dimulai dari langkah sederhana, tetapi memiliki dampak yang luas apabila dirancang secara terarah.
Mahasiswa dapat memperoleh keterampilan dan pengalaman kewirausahaan. Petani berpeluang memperluas akses pasar. Pelaku usaha dapat membangun jaringan distribusi. Sementara itu, wisatawan memperoleh pengalaman baru dalam mengenal budaya kopi Indonesia.
Bagi Yogyakarta, pendekatan tersebut juga membuka peluang untuk memperkuat posisinya sebagai kota budaya, kota pelajar, dan destinasi wisata yang terus melahirkan inovasi.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, media, komunitas, dan dunia usaha, gagasan Jogja Otentik Konkret diharapkan tidak berhenti sebagai wacana, tetapi berkembang menjadi kegiatan yang nyata, terukur, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, kopi bukan hanya tentang secangkir minuman. Di baliknya terdapat kerja keras petani, pengetahuan, keterampilan, kreativitas, peluang usaha, dan potensi untuk memperkenalkan kekayaan Indonesia kepada dunia.
(Herman)






