SLEMAN —Infonews871.com- Kemarau panjang yang melanda wilayah Kabupaten Sleman mulai berdampak terhadap kondisi perkebunan kopi di lereng Gunung Merapi. Sejumlah tanaman kopi di wilayah Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, terlihat mulai layu dan mengalami kekurangan air hingga memasuki fase kritis.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan Kabupaten Sleman. Kepala Bidang Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Sleman, Eko Sugianto, bersama Panewu Cangkringan, Tamzis Sarwana, melakukan pemantauan langsung ke sejumlah lokasi perkebunan kopi di Kalurahan Kepuharjo pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Dalam peninjauan tersebut, rombongan melihat secara langsung kondisi tanaman kopi yang mulai mengalami tekanan akibat minimnya ketersediaan air selama musim kemarau panjang.
Eko Sugianto mengatakan, kondisi tanaman kopi yang mulai layu perlu segera mendapatkan penanganan agar tidak mengalami kekeringan lebih parah hingga berujung pada kematian tanaman.
Menurutnya, langkah antisipasi perlu dilakukan secepat mungkin, terutama pada lokasi perkebunan yang mengalami keterbatasan sumber air.
“Jika kondisi ini tidak segera ditangani, tanaman kopi berisiko mengalami kekeringan dan mati. Karena itu, kami akan menyiapkan tim untuk melakukan penyiraman di sejumlah lokasi perkebunan kopi yang terdampak di wilayah Kapanewon Cangkringan,” ujar Eko Sugianto
Siapkan Langkah Penanganan
Pemantauan lapangan ini menjadi langkah awal untuk mengetahui tingkat dampak kemarau terhadap perkebunan kopi sekaligus menentukan kebutuhan penanganan di lokasi yang paling membutuhkan bantuan.
Upaya penyiraman diharapkan dapat membantu mempertahankan kondisi tanaman selama periode kekurangan air, terutama pada tanaman yang masih berpotensi dipulihkan.
Penanganan tersebut juga penting untuk menjaga keberlangsungan perkebunan kopi yang menjadi bagian dari potensi pertanian dan pengembangan usaha perkebunan di kawasan lereng Merapi.
Eko Sugianto menegaskan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah, pemerintah kapanewon, pemerintah kalurahan, serta para petani dan pengelola perkebunan dalam menghadapi dampak kemarau.
Panewu Cangkringan Dorong Koordinasi dengan Petani
Panewu Cangkringan, Tamzis Sarwana, yang mendampingi peninjauan lapangan, diharapkan dapat memperkuat koordinasi dengan pemerintah kalurahan dan para petani agar lokasi yang mengalami kekurangan air dapat segera teridentifikasi.
“Kami akan berkoordinasi dengan pemerintah kalurahan dan para petani untuk mengetahui kondisi perkebunan yang terdampak serta membantu kelancaran upaya penanganan di lapangan. Harapannya, tanaman kopi yang mulai layu dapat segera memperoleh penanganan sehingga kerugian petani bisa diminimalkan,” ujar Tamzis Sarwana
Koordinasi di tingkat wilayah menjadi penting agar upaya penanganan dapat dilakukan secara tepat sasaran, khususnya pada perkebunan yang berada di lokasi dengan keterbatasan akses air.
Menjaga Keberlanjutan Perkebunan Kopi Lereng Merapi
Dalam kegiatan tersebut, perhatian juga tertuju pada keberlanjutan usaha perkebunan kopi di kawasan Cangkringan. Selain menjadi bagian dari potensi pertanian lokal, kopi lereng Merapi memiliki peluang untuk dikembangkan melalui pengolahan hasil panen dan penguatan usaha berbasis komoditas lokal.
Owner Warung Kopi Merapi sekaligus pengusaha pengolahan kopi, Sumijo, A.Md. (Pertanian), merupakan salah satu pelaku usaha yang berkaitan dengan pengembangan komoditas kopi di kawasan tersebut.
Kondisi tanaman yang mengalami kekurangan air menjadi pengingat bahwa keberlanjutan usaha kopi tidak hanya bergantung pada proses pengolahan dan pemasaran hasil panen, tetapi juga pada pemeliharaan tanaman serta ketersediaan air yang memadai.
Penanganan sejak dini diharapkan mampu menekan risiko kematian tanaman, menjaga produktivitas perkebunan, dan mempertahankan potensi kopi sebagai salah satu komoditas unggulan yang dapat dikembangkan di kawasan lereng Gunung Merapi.
Pemantauan langsung oleh jajaran pemerintah Kabupaten Sleman dan Kapanewon Cangkringan tersebut menjadi bagian penting dalam mengantisipasi dampak kemarau panjang terhadap sektor perkebunan. Langkah selanjutnya diharapkan dapat segera diwujudkan melalui penanganan tanaman yang terdampak dan koordinasi bersama para petani di lapangan.
(Herman)



